1965 Dalam Ingatan

Paska reformasi 98, merupakan momentum awal untuk membicarakan kembali wacana sejarah kritis, ditambah lagi mendorong kelompok-kelompok masyarakat untuk bergerak menelusuri dan memeriksa kembali beragam ingatan yang menyusun sejarah nasional secara kolektif. Tumbangnya orde baru, dan munculnya zaman reformasi, membuat banyak pihak semakin termotivasi untuk meneliti lebih lanjut, dengan tujuan pelurusan sejarah dengan cara yang kritis. Hal ini berangkat antara lain dari pembelajaran kelompok-kelompok masyarakat tentang sedemikian lekatnya representasi atas masa lalu dengan muatan politik orde Baru dalam mereproduksi kekuasaannya. Di tengah hiruk pikuk perdebatan inilah klaim sejarah versi anak muda Indonesia perlu mengambil posisi. Sebagai yang terlahir di generasi dengan ruang dan waktu yang berjarak dengan sejarah terutama wacana 1965, mereka tumbuh dan mengenal sejarah lewat proses reproduksi pengetahuan yang beragam, dari yang sarat represi kekuasaan sampai mereproduksi versi alternatif.

Elemen terkecil terkecil dalam sebuah retorika (baca: kata) mampu mengubah sejarah, bahkan mampu mengubah kehidupan seseorang. Versi-versi sejarah yang dipaparkan akan mampu membangkitkan ingatan. Ingatan yang bersifat individu dalam bagian hidup menjadi penting saat orang lain berusaha merekonstruksikan ingatan tersebut dengan peristiwa yang sama dengan medium yang berbeda. Melihat kondisi tersebut, banyak upaya yang melibatkan generasi muda yang pendekatannya bersifat teknologis, artinya mengoptimalkan teknologi yang sudah familiar atau diminati di kalangan sekarang. Maka, salah satu strateginya adalah belajar sejarah melalui media audio visual. Film, sebagai alat yang tepat sebagai pendokumentasian sejarah lisan, karena melalui film-lah penonton dituntut untuk masuk keadalam pengalaman para korban dengan menggunakan indera pendengar dan penglihatan dan melalui film kita bisa memahami konteks secara cultural dan histories. Dalam film dokumenter, metode yang digunakan bukan hanya mencari data namun penonton diajak menafsirkan dan menampilkan kembali wacana 65 dari perspektif korban.

Tragedi Kemanusiaan 1965 dan Ingatan Sosial

Tragedi 1965-1966 salah satu kisah dan polemik sejarah Indonesia yang sangat menegangkan. Ia melahirkan beragam klaim penafsiran pandangan mengenai kebenaran fakta sejarah.

Tragedi bangsa pada 1965 dan episode sesudahnya adalah salah satu contoh tentang kurun waktu sejarah paling kabur dan gelap. Tahun yang menjadi awal berkuasanya rezim baru yang kontroversial. Tahun dengan fenomena perubahan kebijakan yang sangat drastis. Secara kontradiksi peristiwa ini sebagai tahun-tahun penuh harapan bagi kelompok kekuasaan tertentu dan sekaligus menyimpan kekecewaan tak terbendung dari sebagian yang lain. Awal sistem politik yang menghamparkan kemenangan dan sekaligus kekalahan. Musim semi politik bagi Indonesia yang menyeret kisah paling dramatis. Kurun waktu yang menjadi titik pembalikan sejarah politik Indonesia sekaligus merupakan rentang sejarah dengan tumpukan jutaan korban.

Wacana 65 tidak pernah menjadi bagian dari ingatan sosial. Pengalaman akan tragedi itu berbeda-beda dan tidak pernah diperingati secara kolektif, karena topik itu dianggap masih sangat sensitif maka jalan menuju rekonsiliasi juga sangatlah sulit.