Hilangnya Memori Sejarah Berkebangsaan

Oleh: Dimas D. Saputro

Hilangnya Memori Sejarah Berkebangsaan.
Salah satu peran pendidikan adalah menciptakan ruang kritis terhadap sistem ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Terjadinya penurunan kualitas pendidikan disebabkan oleh acuhnya para pelaku pendidikan terhadap wacana sejarah,di mana materi pendidikan sejarah diharapkan dapat memberi kemampuan kepada anak-anak, untuk merefleksikan tentang yang terjadi pada kurun waktu tertentu. Sejarah hendaknya tidak dilihat dalam hal fakta yang selalu terkait masalah keakuratan dan kejadian, namun melalui pendidikan sejarah diharapkan dapat menciptakan peran kritis para peserta didik. Adanya penyeragaman versi serta penghilangan fakta mengenai tragedi kekerasan yang terjadi selama ini, menyebabkan terhambatnya sebuah proses ajar sejarah yang humanis. Paparan di atas merupakan topik perbincangan kami dengan salah seorang pengajar dan pengamat pendidikan sejarah, S. Arifien.

Foto 1.

Bagaimana reaksi murid dengan adanya beragam versi sejarah paska reformasi ?

Terus terang saja, sejarah dibuat untuk kepentingan politik dan yang kita berikan pada mereka adalah versi resminya. Nah ketika sudah reformasi, ternyata kita punya versi-versi yang lain. Dan tugas pelajaran sejarah, anak-anak diharapkan mencari kebenaran, fakta yang sebenarnya, sehingga sejarah yang kita ajarkan, ya.. sejarah sebagaimana adanya, sejarah apa adanya, kita upayakan seperti itu. Misalkan mengenai wacana kekerasan masa lalu, tragedi 65, itu akumulasi dari berbagai persoalan dan banyak pemainnya, kemudian juga ada faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal jelas, perang dingin yang yang paling berpengaruh khan.. Ada perebutan pengaruh antara barat-timur dan itu dibuktikan bahwa Amerika Serikat begitu khawatirnya karena PKI memiliki kekuatan diurutan ke 3 setelah Soviet dan Cina… Biasanya mereka ingin tahu saja, kepengen lebih jauh begitu ya.. “Kok jadi seperti itu”.. “Kok seperti ini”.. “Yang salah siapa?” ..”Yang sebetulnya paling berkepentingan..?” Fakta menunjukan bahwa mereka menginginkan kekuasaan khan sudah sejak lama untuk menyingkirkan sipil dan momen 65 inilah yang dijadikan momen untuk merebut kekuasaan dari Soekarno. Anak ingin tahu untuk lebih jelas dan lalu kita diskusikan. Jadi ada kelompok-kelompok diskusi yang memberikan kesempatan bagi mereka berada di pihak atau versi mana dan dengan argumen masing-masing. Meskipun argumennya juga sekapasitas mereka, ya enteng-enteng saja.. ada yang mengatakan : “ Jelas ini perbuatan PKI..” Ada juga yang dengan intepretasi lain setelah kita berikan penjelasan. Kemudian biasanya saya perlihatkan sejumlah buku dan beberapa referensi lainnya.

Menyinggung mengenai buku pelajaran sejarah, kritik bapak terhadap buku tersebut?

Ya saya mengatakan bahwa buku – buku tersebut masih merupakan versi resmi pmerintah. Ketika harus dicantumkan G30S/PKI, itu tidak menjadi masalah bagi mereka, karena mereka bisa memahami yang namanya sejarah dipergunakan sebagai kepentingan politik, menjadi sah-sah saja. Saya juga jelaskan bahwa penulisan sejarah versi pemerintah memang kental dengan kepentingan politis semata, kental dengan penciptaan kambing hitam dan lain sebagainya, yang nantinya dijadikan legalitas untuk berkuasa. Nah sejumlah legalitas tersebut yang kini kita pertanyakan bukan, entah di Supersemar, atau pada peristiwa lainnya.. Jadi itu saya sampaikan agar anak-anak berpikir lebih komprehensif. Namun ada juga yang menyanggah, apakah ini tidak menimbulkan perpecahan karena kita dianggap merubah wacana, merubah segala sesuatu yang sudah diterima dari versi resmi itu khan.. Nah problemnya di sini.

Bagaimana guru menanggapi problem itu?

Jangankan siswa, lha wong gurunya saja masih memperdebatkan berbagai versi. Malah ketika forum MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sejarah mempertanyakan, apakah ketika banyak terbit buku putih ini dan itu malah berdampak pada kebingungan siswa ? Saya tegas mengatakan, sejarah khan sesuatu yang tidak final, ada hukumnya ketika ditemukan fakta dan bukti baru, yang lama harus gugur ya khan.. Guru-guru harus memahami hal seperti itu. Karena para guru telah terjebak status-quo tadi, pokoknya enggan berpikir lain. Saya memaklumi itu, toh mereka adalah pekerja-pekerja teknis saja. Guru itu khan pekerja teknis ya, jarang ada yang berupaya untuk mengadakan pembaharuan pada bidangnya. Jadi ketika harus didistorsi seperti sekarang pun harus terima-terima sajalah. Bayangkan saja, kita selama 32 tahun diindoktrinasi seperti itu, sehingga sudah menjadi dogma yaa.. Sejarah lalu didogmakan seperti itu. Sebagaimanapun itu, harus ada perubahan narasi. Karena kehidupan berbangsa dan bernegara ini ke depan ini akan sangat berbahaya, ketika dibalik itu tidak ada kejujuran. Pembantaian yang memakan nyawa sekian ratus ribu dianggap biasa saja, ini sesuatu yang berbahaya menurut saya. Ndak usah diutik-utik.. ndak usah dimunculkan lagi.. dengan pendekatan HAM misalnya. Ini kan bahayanya ke depan, sesuatu yang kita lakukan kekerasan apapun akan dianggap hal yang biasa, ketika peristiwa yang sebesar itu terjadi lagi, toh juga nantinya dianggap biasa saja. Maka rekonsiliasi saja tidak cukup, mengembalikan harkat, martabat mereka yang jadi korban. Ada semacam rehabilitasi mestinya.

Foto 2.

Mengenai proses ajar sejarah, apa yang menjadi hambatan hingga saat ini?
Ya itulah, para guru terjebak pada status-quo ya, tidak mau ada perubahan. Meskipun saya sudah coba, mereka akan tetap bertahan. Misalnya saja ketika diputarkan film tempo dulu itu, G30S/PKI, ada juga dari teladan yang mengatakan: “Wah valid ini..” Hahahaa… Saya hanya bilang silahkan baca dulu buku ini dan itu.

Apakah bapak pada akhirnya memilih berkompromi dengan keadaan ?

Saya punya strategi sendiri tentunya, saya tidak mau menggunakan buku-buku yang telah dibakukan saja, saya menginginkan ada penulisan ulang sejarah orde baru. Tentu saja yang terkait dengan wacana tersebut. Mutlak rasanya harus ada penulisan ulang, dari versi yang resmi tersebut terhadap realita yang ada dilapangan. Sayangnya kita masih mentok, yang menerbitkan buku seperti itukan akhirnya juga dilarang. Inilah hal yang lucu ketika kebebasan macem-macem, tapi hal tersebut masih ada saja. Maka seringkali saya berpikir untuk menyusun sendiri materi tersebut, menurut versi dan intepretasi saya. Saya ingin menyusun dalam bentuk.. apa namanya.. diktat misalnya. Saya tidak berpijak pada buku-buku baku tersebut ketika mengajar. Saya sudah persiapkan sesuai dengan materi yang saya susun sebelumnya. Saya tidak mau yang status-quo tadi. Saya pikir perlu adanya pembaharuan, karena sejarah itu khan transformasi nilai. Kalau nilai –nilai yang kita berikan itu nilai-nilai kebohongan, ketidak jujuran, bagaimana anak-anak kita nanti. Toh pada akhirnya ketika mereka terus meneruskan perjuangan, diindoktrinasi dengan pola –pola yang seperti itu kan berbahaya.

Apakah anak didik saat ini hanya dipandang sebagai objek ?

Waduh kalau berbicara hal tersebut saya lebih mengacu pada sistem pendidikan kita yang minta ampun.. hahahaa.. Saya pikir hanya untuk mencetak robot. Karena pendidikan kita sudah tidak berpijak pada filosofi pendidikan atau katakanlah sudah tidak berpijak pada Pancasila. Pendidikan kita sudah sangat pragmatis sekali, sekedar mencetak robot. Jelas anak sekedar menjadi objek, pendidikan bukan lagi bertujuan untuk memanusiakan manusia, pembudayaan yang pada hakekatnya menciptakan manusia yang memang punya peradaban yang mulia. Apalagi untuk konteks Indonesia sekarang ini. Di mana nilai pluralitas, kebersamaan sebagaimana sudah dituangkan di Pancasila ? Hal ini juga anak tidak memiliki idealisme. Mereka berpikir praktis, teknis.

Bisa dikatakan anak tidak lagi mengenal sejarahnya ?

Apatis istilahnya. Malahan ada yang bertanya, “Apa itu sejarah?” Lha ini khan suatu hal yang ironis. Mereka tidak lagi mau kenal siapa itu Kasimo, Natsir? Yang mana di kurikulum Orde Baru tidak ada itu yang namanya ditonjolkan sedemikian rupa kecuali Soeharto. Jadi ia satu-satunya orang yang dianggap paling berpengaruh. Jangankan Nasution, Soedirman saja dipinggirkan kok, dalam kasus Serangan Umum misalnya. Nah inilah, sejarah sudah dikooptasi sedemikian rupa oleh kepentingan kekuasaan. Sehingga peran-peran yang lain, termasuk peran sipil sebenarnya sudah dipinggirkan, seolah-olah hanya tentara saja yang betul-betul mempertahankan kemerdekaan, yang betul-betul berjuang.
Sejauh mana bapak menempatkan anak sebagai subjek dalam pengajaran sejarah?
Biasanya saya memberikan kesempatan pada murid untuk mendiskusikan peristiwa tersebut dengan terbuka. Artinya saya pun memberikan ragam referensi yang nantinya dapat mereka akses. Ada juga mereka yang berkomentar: “ Wah Soeharto licik yo, mangkane matine sulit.” Hahahaa.. Nah ini khan komentar polos ya ditingkat para siswa. Beberapa juga masih ada yang bingung, bengong, kok seperti ini.. Bagi saya itu tak masalah. Inilah sebuah proses yang perlu dilakukan terus menerus, agar si anak benar-benar dapat memperoleh satu pelajaran sejarah yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya dan bisa dipertanggungjawabkan. Yang penting bagi saya itu.
Foto 3.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *