Kaum Eksil dan Pemuda Indonesia Pasca Reformasi

Oleh: Ariefin (Guru Mata Pelajaran SMU Muhammadiyah 4, Kotagede, Yogyakarta)

Senyum kecil tersungging di wajah Pak Mintardjo begitu turun dari kendaraan yang membawanya langsung dari rumahnya. Tak ada pancaran kelelahan dari wajahnya meskipun telah melakukan perjalanan panjang dari Leiden sampai Yogyakarta. Para mahasiswa Ilmu Budaya UGM yang telah berkumpul di ruangan diskusi menyambut lelaki itu begitu memasuki ruangan seminar.

“Kami adalah manusia perbatasan. Kalau ditanya dimana tanah air kami, itu hal paling sulit yang harus kami jawab,” katanya dengan nada datar. “Sebagai mahasiswa Indonesia saat itu, patriotisme kami sangat tinggi. Namun rezim militer Orde Baru telah memberangus seluruh impian kami untuk kembali ke tanah air. Jadi pertannyaan tentang tanah air sungguh sebuah pertanyaan yang susah dijawab…”

Para mahasiswa yang memenuhi ruang seminar, sebagian berusia 18 hingga 21 tahun, berusaha menangkap kegetiran hidupnya selama lebih dari tiga puluh tahun di pengasingannya di Belanda. Ketika G-30-S/PKI meletus, ia hampir menamatkan ekonominya di sebuah Universitas di Rumania. Harapannya pulang ke tanah air pupus karena ia dianggap berafiliasi dengan PKI. Kalau ia nekat pulang, siksaan fisik dan sel penjara tentu telah menantinya. Orang-orang Indonesia di luar negeri yang berafiliasi pada PKI atau mereka yang dianggap Soekarnois menghadapi dua pilihan: pulang ke Indonesia dan dimasukkan ke penjara atau tinggal di luar negeri tanpa mendapatkan kepastian nasib.

Nasibnya tak beda jauh dengan Sobron Aidit dan Ali Chanafiah. Keduanya menetap di Paris dan Moskow. Mereka mengambil pilihan berbeda seperti Koesalah Soebagyo Toer yang memberanikan diri pulang dari Rusia ke Indonesia hanya untuk hidup dari penjara ke penjara. Revolusi, yang diperjuangkan untuk menegakkan kedaulatan bangsa di hadapan kekuatan luar maupun di hadapan diri sendiri, mengorbankan anak-anaknya sendiri. Ribuan orang yang tengah berada di luar negeri untuk menuntut ilmu maupun tugas negara menjadi korban. Bukan hanya itu, prahara tersebut juga menghancurkan harapan hidup puluhan juta orang yang terlanjur dicap komunis atau Soekarnois meskipun mereka tak memiliki kaitan apa-apa dengan ideologi tersebut.

“Sewaktu saya menjadi mahasiswa, Indonesia disegani di dunia Internasional. Para mahasiswa kita sangat dihormati di Eropa. Jerman, negara dengan sistem pendidikan dan seleksi mahasiswa asing yang ketat, membebaskan mahasiswa kita untuk masuk ke jurusan yang dipilihnya. Politik luar negeri dan citra yang dibangun oleh Soekarno pada waktu itu telah meyakinkan dunia Internasional, termasuk bangsa-bangsa di Eropa, bahwa orang Indonesia maju dan Intelek”, ujarnya dengan suaranya yang tak segarang masa mudanya.

Ia lalu bertutur bagaimana Soekarno dari akhir 1950-an hingga tahun 1960-an meluncurkan proyek mercusuarnya: membangun waduk Jatiluhur dan Asahan, membangun pabrik baja Krakatau Steel, reaktor nuklir, Masjid Istiqlal, dan Stadion Gelora Bung Karno, serta mengadakan pesta olahraga negara-negara kekuatan baru dunia (GANEFO). Proyek mercusuar Soekarno itu, menurut Pak Mintardjo, dianggap sebagai sesuatu yang visioner dan realistis. Ia mengatakan bahwa proyek-proyek yang diluncurkan Soekarno adalah sebuah tindak fondasional.

“Memandang India, China, dan Mesir sekarang tak bisa dilepaskan dari terbangunnya industri-industri strategis mereka di tahun 1950-an. Mereka menjadi kekuatan global baru karena apa yang telah ditanamkan pada tahun-tahun itu. Proyek-proyek pembangunan waduk Asahan dan Jatiluhur terilhami dengan proyek serupa di Mesir (Waduk Air Aswan) dan di India. Kunjungan para jurnalis Indonesiake India tahun 1953 seperti Rosihan Anwar dan B.M Diah, yang dibukukan oleh Rosihan Anwar dengan Judul India Dari Dekat (1954) salah satunya mengulas tentang proyek pembangunan waduk ini,” ujarnya dengan penuh semangat.

Keberanian Soekarno dalam meluncurkan proyek mercusuar itu tak lepas dari semakin banyaknya kaum terdidik Indonesia baik mereka yang menuntut ilmu di dalam maupun di luar negeri. Dalam kasus kaum terpelajar Indonesia yang memperoleh pendidikan di penjuru dunia, seluruh pengetahuan yang telah mereka peroleh dari luar itu menemukan sintesisnya ketika diterapkan dengan kasus-kasus yang khas Indonesia. Pelaksanaan proyek ini adalah usaha logis dan realistis untuk mendayagunakan sumberdaya terbaik bangsa terutama kaum terpelajar yang telah pulang dari menuntut ilmu di luar negeri. Ikhtiar ini juga untuk menghindarkan negeri ini dari kemungkinan gejolak sosial yang ditimbulkan oleh kaum terpelajar yang tidak menemukan saluran-saluran yang tepat bagi intelejensi dan kreativitas mereka.

Sayangnya prahara politik tahun 1965 yang disponsori oleh militer berhasil menggulingkan Soekarno sehingga proyek mercusuar yang punya nilai strategis bagi keberlangsungan impian kebesaran bangsa Indonesia di masa depan itu terlantar. Prahara politik ini juga menyisakan suatu kehilangan sekian banyak SDM unggul yang telah dibangun dengan susah payah sejak Indonesia merintis kemerdekaannya hanya karena cap PKI atau berafiliasi dengan PKI dan Soekarno.

Akibatnya, kekuasaan Orde Baru dengan limpahan sumberdaya finansial besar dari Amerika Serikat dan sekutunya mengalami fenomena “brain drain.” Sejumlah besar kaum terpelajar Indonesia yang luar biasa itu dikirim ke penjara, ruang penyiksaan, atau dibiarkan melata di luar negeri tanpa kepastian hukum dan kewarganegaraan. Rezim otoriter ini akhirnya mengandalkan militer, sebagian besar kelompok PSI, Masyumi dan elemen-elemen yang dianggap netral dan kaum oportunis untuk mengisi menyiasati kehilangan sumberdaya manusia yang telah terlanjur terkena stigma politik dar prahara tahun 1965 tersebut.

“Kini terserah pada kalian sebagai angkatan muda yang relatif baru dan tak punya hubungan langsung dengan peristiwa tahun 1965 untuk mengambil sikap politik yang mandiri dan memberikan pandangan yang lebih adil terhadap prahara politik masa itu,” ujar Pak Min dengan nada pasrah.

Lebih jauh ia berkata bahwa meskipun kini sebagian besar kaum eksil sudah renta, namun mereka mewariskan cara pandangnya sendiri tentang Indonesia, jaringan kerja ekonomi, politik, dan budaya yang luas, dan kesempatan-kesempatan yang bisa digunakan oleh kaum terpelajar muda Indonesia untuk melanjutkan impian atas proyek kebangsan Indonesia seperti yang telah dibangun oleh founding fathers ini sejak awal abad 20. Posisi generasi muda Indonesia sekarang yang relatif berjarak cukup jauh dengan peristiwa berdarah 1965 memberi keleluasaan ruang untuk merekonsiliasikan sekian banyak elemen bangsa yang selama ini tercerai-berai oleh peristiwa tragis tersebut.

Kami, para peserta seminar yang mendengarkan uraian Pak Mintardjo tentang keberadaan kaum eksil Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru dunia itu seperti menemukan celah untuk mengimpikan kembali Indonesia di awal abad 21. Sebuah impian naif mungkin. Namun siapa lagi yang bermimpi selain kami yang masih muda dan punya vitalitas untuk bergerak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *