Museum Bergerak 1965

... menghubungkan ingatan masa lalu akan tragedi kemanusiaan sekaligus mendorong dialog inovatif untuk menemukan bahasa kemanusiaan pada generasi sekarang.

Tragedi peristiwa 1965 yang terjadi lima puluh tahun yang lalu di Indonesia adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang terjadi di dunia dengan telah merenggut jutaan korban. Tragedi ini terjadi melintasi batas ras, suku, agama, gender dan komunitas yang terjadi secara masif. Pembunuhan massal, penghilangan paksa, perkosaan, pembuangan ke pulau Buru, pemenjaraan di Plantungan, Bukit Duri, Salemba, Cipinang, Nusakambangan, Ambarawa dan berbagai penjara lainnya tersebar di hampir seluruh wilayah nusantara, telah mengubah jalannya sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa ini menjadi sejarah kelam perjalanan bangsa Indonesia selama 50 tahun. Upaya pelupaan dan pengingkaran secara sistematis melalui berbagai cara dengan media, kebijakan politik, represi militer, dan pendidikan dilakukan oleh penguasa.

Sejak pemerintah Orde Baru tumbang 15 tahun yang lalu, berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat sipil di Indonesia untuk membongkar masa lalu melalui berbagai kegiatan. Namun tampaknya banyak dari upaya ini belum banyak memberikan harapan untuk penyelesaian maksimal, sementara para penyintas sudah semakin tua dan satu persatu meninggal. Di sisi lain terdapat krisis pelupaan dari generasi muda masa kini, karena ada upaya pelupaan oleh pemerintah dan penguasa sehingga tragedi peristiwa 1965 akan menjadi misteri sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Untuk menjawab persoalan ini, Museum Bergerak 1965 adalah upaya kreatif membangun jembatan di masa sekarang dengan menghubungkan ingatan masa lalu akan tragedi kemanusiaan sekaligus mendorong dialog inovatif untuk menemukan bahasa kemanusiaan pada generasi sekarang. Dalam Museum Bergerak 1965 ini, kami bertujuan menciptakan sebuah ruang publik terutama bagi generasi muda untuk bertemu, mengingat, dan mendialogkan secara langsung antara: ingatan (arsip), tubuh (penyintas), bahasa (karya), dan publik. Ruang, peristiwa, dan perjumpaan secara langsung dikreasi di dalam ruang publik, dan desain secara interaktif melalui materi-materi yang dipamerkan. Suasana, ruang, dan kehadiran penyintas sebagai bahasa dan event akan menyatu menjadi arena perjumpaan untuk menemukan kembali ingatan-ingatan peristiwa Tragedi 1965.

Dalam Museum Bergerak 1965 ini, kami menghadirkan:

  1. Arsip-arsip penyintas sebagai artefak dari tragedi kemanusiaan sekaligus memperlihatkan daya hidup sebuah generasi bangsa yang dibungkam terus-menerus tetapi tetap bertahan ke-agensi-annya dengan berbagai cara.
  2. Karya-karya seniman (visual) dalam media (video dan seni rupa) sebagai bentuk dialog sekaligus penulisan sejarah yang hidup.

Museum Bergerak ini diprakarsai atas inisiatif sejumlah individu, komunitas/lembaga, di antaranya : Institut Ungu, kotakhitam forum, Kampung Halaman, Foperham, Kipper, Biennale Yogya, Festival Film Dokumenter